Jumat, 16 Januari 2026

Filantropi Naik Level: Dari Bantuan ke Pemberdayaan Berkelanjutan

 
Sumber foto : Dokpri 


Tekanan ekonomi, ketimpangan sosial, dan krisis global yang berlapis membuat persoalan kemanusiaan hari ini semakin kompleks. Gelombang pemutusan hubungan kerja, daya beli yang melemah, serta terbatasnya akses terhadap layanan dasar mendorong semakin banyak kelompok masyarakat berada dalam kondisi rentan.

Situasi ini menegaskan satu hal penting yaitu pendekatan kemanusiaan tidak bisa lagi berhenti pada bantuan sesaat, tetapi perlu diarahkan pada solusi jangka panjang yang mampu membangun ketahanan dan kemandirian masyarakat.

Konteks inilah yang terasa kuat dalam Indonesia Humanitarian Summit & Peluncuran Indonesia Philanthropy Report 2025, yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa bersama Nusantara TV pada Kamis, 15 Januari 2026, bertempat di Nusantara TV Ballroom, NT Tower Lantai 5, Jakarta Timur. Mengusung tema “Empowerment to The Next Level”, forum ini menjadi ruang temu lintas sektor untuk membicarakan ulang arah filantropi Indonesia di tengah tantangan sosial yang semakin nyata.


Sumber foto : Dokpri 


Sejak awal acara, suasana yang terbangun terasa hangat dan penuh harapan. Pentas seni tradisional membuka forum dengan pengingat bahwa kemanusiaan dan kebudayaan selalu berjalan berdampingan. Dari momen itu, diskusi bergerak pada satu benang merah: tantangan sosial hari ini membutuhkan pendekatan yang lebih dewasa, terbuka, dan berani serta kolaborasi yang sungguh-sungguh.

Dalam sambutannya, Ahmad Juwaini, Ketua Pengurus Dompet Dhuafa, menegaskan bahwa filantropi perlu melampaui pendekatan karitatif. Bantuan jangka pendek dinilai tidak cukup untuk menjawab persoalan struktural yang dihadapi masyarakat. Karena itu, filantropi harus dikelola secara terukur, transparan, dan berorientasi pada dampak agar mampu benar-benar menguatkan dan memandirikan penerima manfaat.

Perspektif yang lebih luas disampaikan oleh Anis Matta, Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia. Ia menyoroti bahwa di tengah krisis global yang saling berkelindan mulai dari ekonomi, geopolitik, hingga kemanusiaan, filantropi memiliki peran strategis dalam menjaga kohesi sosial. Filantropi tidak hanya hadir sebagai respons atas kondisi darurat, tetapi juga sebagai kekuatan yang membangun daya tahan masyarakat agar tidak mudah rapuh di tengah ketidakpastian.


Sumber foto : Dokpri 


Diskursus semakin diperdalam melalui pemaparan Indonesia Philanthropy Report 2025. Laporan ini membuka gambaran tentang bagaimana filantropi dapat dikelola secara akuntabel, berdampak, dan berkelanjutan. Data yang disajikan menunjukkan bahwa filantropi bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan sebuah ekosistem yang membutuhkan tata kelola yang kuat, kolaborasi lintas sektor, serta keberpihakan pada solusi jangka panjang.

Dalam sesi diskusi panel, Sandiaga Uno, tokoh pemberdayaan dan kewirausahaan, menyoroti pentingnya mengaitkan filantropi dengan penguatan ekonomi masyarakat. Menurutnya, filantropi akan memiliki dampak yang lebih panjang ketika diarahkan pada penciptaan peluang usaha, penguatan kapasitas, dan pembukaan akses ekonomi terutama bagi anak muda dan pemimpin lokal. Pendekatan ini dinilai mampu menjembatani kepedulian sosial dengan kemandirian ekonomi.

Bagi Dompet Dhuafa, forum ini juga menjadi bagian dari komitmen transparansi dan akuntabilitas kepada publik. Sepanjang 2025, Dompet Dhuafa menyalurkan dana filantropi dalam skala besar melalui berbagai program di bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, sosial, dan kemanusiaan. Seluruh upaya tersebut dijalankan dengan prinsip tata kelola yang mengacu pada Good Corporate Governance dan Good Risk Management, sehingga dampak yang dihasilkan tidak hanya besar secara angka, tetapi juga kuat secara keberlanjutan.

Lebih dari sekadar agenda tahunan, Indonesia Humanitarian Summit 2025 memperlihatkan bahwa filantropi Indonesia sedang bergerak menuju fase yang lebih matang. Fokusnya bergeser dari seberapa banyak bantuan disalurkan, menjadi seberapa jauh masyarakat dapat diperkuat dan dimandirikan.

Pada akhirnya, Empowerment to The Next Level bukan hanya sebuah tema, melainkan ajakan bersama. Di tengah tantangan kemanusiaan yang semakin kompleks, filantropi membutuhkan lebih banyak pihak yang mau terlibat bukan hanya untuk memberi, tetapi untuk ikut membangun kemandirian. Saatnya bergerak, berkolaborasi, dan mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing demi perubahan yang berkelanjutan.

0 komentar:

Posting Komentar