Saatnya Generasi Milenial Menebar Kebaikan Melalui Gelombang Wakaf (Waqf Wave)


Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam semua urusannya. (Qs. ath-Thalaaq: 4)


Wakaf termasuk dalam amal ibadah yang paling mulia bagi kaum muslim, yaitu berupa membelanjakan harta benda. Kenapa dianggap mulia? karena pahala amalan ini bukan hanya dipetik ketika pewakaf masih hidup, tetapi pahalanya juga tetap mengalir terus, meskipun pewakaf telah meninggal dunia.

Ada kisah sahabat Nabi Muhammad SAW, yaitu Utsman bin Affan yang mewakafkan sumurnya kepada kaum muslimin, yang menghasilkan keuntungan yang cukup besar sehingga dapat dibelikan kebun kurma dan hasilnya dibagi dua.

Keuntungan yang pertama adalah untuk disedekahkan kepada fakir miskin dan kemudian sisanya untuk ditabung. Ternyata tabungan Utsman bin Affan ini masih ada dan terus bertambah sampai sekarang. 


Bertambah banyak orang yang memanfaatkannya, bertambah pula pahalanya. Terlebih lagi bila yang memanfaatkan hasil wakaf ini adalah orang yang berilmu dinul Islam, ahli ibadah menurut Sunnah dan ahli dakwah Salafiyah, tentunya akan lebih bermanfaat lagi. Ini semua akan dipetik oleh pewakafnya saat hari kiamat nanti.

Gelombang Wakaf (Waqf Wave) Menebar Kebaikan




Apakah Anda menyadari bahwa emas yang ada di Monas adalah hasil dari wakaf?

Apakah Anda juga tahu bahwa untuk dana tambahan haji 20 Milyar bagi jamaah Aceh ternyata mendapatkan dana tambahan haji dari wakaf produktif Habib Bugak Asyi?


Jujur saja, saya baru mengerti tentang manfaat wakaf produktif ini saat saya bersama rekan-rekan blogger pada Selasa pagi (12/2), berkesempatan menghadiri acara Press Conference Peluncuran Gerakan "Gelombang Wakaf"(Waqf Wave) di GoWork FX Sudirman Mall, 7th floor, Jl. Jendral Sudirman, Jakarta Pusat.

Simbolis Launching Gerakan Gelombang Wakaf 
bersama para narasumber


Peluncuran Gerakan Gelombang Wakaf (Waqf Wave) yang diselenggarakan oleh Rumah Zakat ini menghadirkan Chief Executive Officer Rumah Zakat Nur Efendi, Owner Batik Trusmi Sally Giovanni dan Ketua Bidang Pengembangan Nazhir Forum Wakaf Produktif Badan Wakaf Indonesia Soleh Hidayat.

Rumah Zakat meluncurkan gerakan baru ini untuk terus menebar kebaikan bagi Indonesia dan dunia. Gerakan Gelombang Wakaf merupakan sebuah respon dari data yang dikeluarkan oleh BWI (Badan Wakaf Indonesia), yang menyebutkan bahwa potensi wakaf uang di Indonesia telah mencapai  Rp. 180 Triliun, sedangkan wakaf uang yang baru dimanfaatkan baru mencapai Rp. 400 Milyar.

Gerakan ini menandakan langkah besar Rumah Zakat untuk mewujudkan visi menjadi filantropi zakat, infaq, shadaqah, wakaf dan kemanusiaan.


Nur Efendi menjelaskan bahwa filantropi itu diwujudkan dalam bentuk rumah sakit, klinik, sekolah, 5.323 desa berdaya, 200 hektar lahan produktif, serta 50.000 UMKM di seluruh Indonesia.

Minimnya pemanfaatan wakaf ini dilatarbelakangi oleh minimnya edukasi wakaf di Indonesia. Masyarakat hanya mengenal wakaf dalam bentuk harta yang tidak bergerak, contohnya seperti wakaf tanah dan bangunan saja.

“Padahal disatu sisi dalam aturannya, wakaf bisa berbentuk uang, emas, mobil, dan barang lainnya yang bisa digunakan untuk kepentingan sosial, bahkan apabila wakaf dikelola dengan baik oleh lembaga wakaf atau nazhir, hasil dari wakaf produktif tersebut bisa mensejahterakan masyarakat Indonesia,” papar CEO Rumah Zakat.

Memberikan edukasi dan keterlibatan masyarakat dari berbagai kalangan, yang dimulai dari generasi milenial terhadap program wakaf merupakan salah satu fokus kampanye Gelombang Wakaf (Waqf Wave) ini.



Tidak hanya mengedukasi masyarakat melalui seminar di seluruh Indonesia dan aktivasi melalui media sosial memgenai gerakan Gelombang Wakaf  (Waqf Wave) ini, Rumah Zakat juga membentuk komunitas wakaf yang bertujuan untuk melibatkan generasi milenial yang jumlahnya kurang lebih 40 persen dari total penduduk Indonesia secara langsung dalam proses pelaksanaan wakafnya.

Tidak seperti zakat, wakaf tidak ada nisab, sangat penting diketahui bahwa potensi wakaf ini sangat besar, jadi semua orang bisa berwakaf. 

Pemberdayaan Wakaf Produktif

Wakaf juga memiliki peluang besar untuk dapat dijadikan sebuah sumber yang menghasilkan produktivitas bagi masyarakat. Rumah Zakat telah membuktikan ini dalam kiprahnya selama 20 tahun dan mampu memberdayakan 30 juta penerima layanan manfaat, 18 sekolah, 8 klinik, dan 1.295 Desa Berdaya.

Hal ini semakin diperkuat merujuk pada keadaan beberapa waktu terakhir, yang menunjukkan ekonomi syariah terus memainkan peranan penting dalam pembangunan Indonesia, terlebih Indonesia merupakan negara dengan jumlah populasi muslim terbesar di dunia.

Ada satu potensi yang belum bisa dikembangkan dengan baik, yaitu wakaf selain ZIS (zakat, infaq, sedekah). Saat ini Indonesia masih parsial dalam hal mengelola masalah zakat, infak, sedekah, wakaf pada ZIS.

Wakaf hari ini masih jauh dari apa yang diharapkan dan dimaksimalkan potensinya, oleh karena itu gerakan Gelombang Wakaf (Waqf Wave) ini menjadi satu awalan pengoptimalan potensi zakat, infak, sedekah, wakaf secara keseluruhan.


Tahun 2023 yang akan datang, diharapkan saat revolusi muslim sedang berlangsung, Indonesia berada pada stage 4 dalam Waqf Blueprint, yaitu Managing Waqf as a Vital Financial Instrument seperti pembangunan jalan tol, pembangunan perkantoran dan perumahan dalam keuangan yang islami.

Dan stage 1 sampai 3 itu adalah
  1. Stage 1, Managing Waqf as a Charity
  2. Stage 2, Managing Waqf as productive asset, seperti pada layanan publik seperti rumah sakit dan klinik, pertanian, sekolah dan islamic center. 
  3. Stage 3, Managing Waqf as a Real Bussines Sector yaitu berupa elaborasi dengan instrumen yang ada.



Step-step dari peluncuran gerakan Gelombang Wakaf (Waqf Wave)  yaitu :

  • Launching GW 
  • Digital activation http://gelombangwakaf.id
  • Public activation 
  • Roadshow GW di 18 provinsi, di 5.323 desa berdaya, 200 H lahan produktif, 50.000 UMKM sekolah klinik dan rumah sakit.

Wakaf Produktif ala Generasi Milenial

"Perjalanan bisnis saya dimulai setelah menikah muda di usia 17 tahun dengan berjualan kain kafan. Karena penjualan kain kafan tidak menentu, akhirnya saya menempuh strategi baru dalam berbisnis batik dan berhasil. Hingga pada suatu fase, saya mendapat ujian bahwa dua dari tiga toko milik saya harus tutup, dan saya bersama dengan suami mengetuk pintu lain dalam berupaya menjalankan wakaf ini" tutur Owner Batik Trusmi, yang juga Pendiri Yayasan Rizky Berlimpah Berkah dan Pendiri delapan rumah tahfidz yang melahirkan para penghafal Al-Quran.

Sally Giovanni, Owner Batik Trusmi


Sally Giovanni juga Pemegang Rekor Muri 2013 dan 2014 untuk kategori “Pemilik Toko Batik Terluas (Pusat Grosir Batik Trusmi) pada usia termuda 22 tahun 4 bulan 11 hari.”

Nah, di era jaman now, kaum generasi milenial sebaiknya tidak terjebak pada kenikmatan dan gaya hidup yang serba instan, yang dimanjakan oleh kecanggihan teknologi, yang bisa membuat kebanyakan orang menjadi malas dan tidak produktif.

Selagi kita bisa bermanfaat, melalui harta kita, ilmu kita atau tenaga kita, maka kita bisa produktif. Jangan sampai sepanjang hidup kita tidak pernah memberi arti, seolah-olah kita sudah mati sebelum waktunya ya. Kenapa kita tidak hidup dengan memberi arti dengan cara menebar sebanyak-banyaknya manfaat baik kepada sesama.

Menjadi insan generasi milenial yang produktif bisa dilakukan dengan berwakaf. Nah, dari dana wakaf itu kan nantinya bisa dibangun berbagai aset wakaf yang bermanfaat bagi sesama, termasuk juga para generasi milenial. 

Kita bisa produktif dengan ikut berwakaf karena memberikan manfaat dan aset wakaf yang telah dibangun dari wakaf mereka bisa digunakan untuk berbagai aktivitas agar menjadi lebih produktif.

(Sumber : @Refika Artari)


Dengan adanya Gelombang Wakaf (Waqf Wave) semoga bisa dan mampu mengajak siapapun untuk bisa berkontribusi membangun Indonesia melalui wakaf, terutama generasi milenial.

4 Responses to "Saatnya Generasi Milenial Menebar Kebaikan Melalui Gelombang Wakaf (Waqf Wave)"

  1. iya mbak saya setuju, namun masalahnya sekarang menemukan seorang wakif yang full ikhlas itu rada susah mbk hehe

    BalasHapus
  2. Masya Allah Tabarokalloh, ini bukan hanya bermanfaat mbak tapi termasuk menebar informasi yang baik. Pas aku baca ini ngerasa kayak wah aku masih belum bisa berwakaf, harus diniatkan dan harus terwujud.

    BalasHapus
  3. Benar di daerah saya saja masyarakat masih tahunya wakaf itu bentuk tanah dan bangunan saja. Padahal sesuai dengan perkembangan zaman wakaf sudah lebih luas jangkauan serta bentuknya ya. Semoga semakin banyak sosialisasi seperti ini masyarakat jadi lebih banyak mengenal arti wakaf saat ini

    BalasHapus
  4. Masha Allah, semoga berkah selalu ya mba.
    Takjub banget dengan inovasi2 penuh berkah seperti ini.
    Sosialiasi yang keren untuk masyarakat tentang wakaf :)

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel